Rumah Gadang Berasal Dari – Informasi Sederhananya

    Rumah Gadang Berasal Dari – Informasi Sederhananya

    Rumah Gadang Berasal Dari – Rumah gadang merupakan rumah adat Minangkabau yang saat ini menjadi salah satu rumah tradisional Indonesia. Rumah ini dapat ditemukan di beberapa daerah di  provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Bentuk dari rumahnya sendiri tentunya mendapat pengaruh dari budaya dan gaya hidup masyarakat Minangkabau. Rumah ini merupakan salah satu dari sekian banyak rumah adat yang ada di Indonesia.

    Sebelum kita mengentahui pengaruh budaya minangkabau terhadap rumah gadang, sebelumnya harus diketahui bahwa rumah ini merupakan kekayaan dari arsitekturvernakular minangkabau di Sumatera Barat. Arsitektur vernakular ini mendapat pengaruh dari sosial budaya dari masyarakat. Di Minangkabau sendiri, rumah ini mendapat pengaruh dari sistem kekerabatan matrilineal orang-orang minang.

    Seperti halnya rumah arsitektur vernakular lainnya, arsitektur rumah ini merupakan warisan turun temurun dari nenek moyang, sehingga bentuknya tidak mengalami modifikasi. Hal itu dikarenakan selain berfungsi sebagai tempat tinggal, rumah adat merupakan identitas dari kelompok masyarakat.

    Seperti yang kita telah ketahui, bahwa budaya Minangkabau menganut sistem kekerabatan matrilineal. Dalam sistem kekerabatan itu, kehidupan masyarakatnya terikat dengan garis keturunan ibu. Akan tetapi, semua pengambilan keputusan ditentukan oleh paman (ninik-mamak). Perempuan di sini hanya sebagai penerima hak dan kewajiban adat.

    Penetapan sistem matrilineal ini dilakukan bukan untuk memperkuat peran perempuan, seperti pemegang kekuasaan, melainkan lebih kepada perlindungan terhadap harta pusaka kaum, seperti rumah gadang dan tanah warisan. Nah, dari gambaran kehidupan masyarakat ini, kemudian dibuatlah rumah gadang yang bisa memenuhi peran tersebut.

    Rumah Gadang – Bentuk Rumah Gadang

    Rumah Gadang Berasal Dari – Bentuk dari rumah gadang sendiri sangat unik. Bentuk rumahnya memanjang dan memiliki beberapa ruang yang memanjang pula serta disebut lanjar. Bentuk atapnya gonjong dengan puncak atap runcing menyerupai tanduk kerbau. Dahulu atap rumah ini dibuat dari jerami atau ijuk. Akan tetapi, dengan adanya modernisasi, maka atapnya sudah banyak yang memakai atap seng.

    Biasanya, rumah ini dibuat dengan bentuk empat persegi panjang, serta dibagi menjadi dua bagian, yaitu muka dan belakang. Untuk bentuk dalam rumah ini biasanya mendapat pengaruh dari tata ruang di dalamnya. Untuk rumah yang memiliki dua lanjar disebut juga sebagai lipek pandan (lipat pandan). Biasanya rumah ini memiliki dua gonjong.

    Rumah gadang yang memiliki tiga lanjar disebut balah bubuang (belah bubung) serta memiliki empat gonjong. Kalau rumah yang memiliki empat lanjar disebut gajah maharam (gajah terbenam) yang memiliki enam gonjong. Uniknya lagi, pada bagian depan rumah biasanya dipenuhi ukiran ornamen, dengan motif akar, daun, bunga, serta bidang persegi empat dan genjang. Berbeda dengan bagian luar di belakang yang dilapisi dengan belahan bambu.

    Rangka rumah ini dibuat dari tiang-tiang panjang yang kokoh. Hal itu berdampak pada bangunan rumah yang walaupun dibuat besar ke atas, namun tidak mudah goyah oleh goncangan. Tiap elemen dari rumah ini memiliki makna yang dilatari oleh tambo yang ada dalam adat serta budaya masyarakat setempat.

    Umumnya, pada rumah terdapat satu tangga yang berada di bagian depan rumah. Akan tetapi, bagian dapur terpisah di bagian belakang rumah serta terdempet oleh dinding. Bagian dinding dari rumah ini terbuat dari bahan papan, namum bagian belakangnya dari bahan bambu. Rumah ini memiliki ukiran pada dindingnya. Penempatan motif ukiran dari rumah ini bergantung pada letak dan susunan dari papan dinding Rumah.

    Ukiran pada rumah ini memiliki motif dari alam, seperti akar yang berdaun, tumbuhan merambat, berbunga, dan berbuah. Pada pola akarnya membentuk lingkaran, dimana akarnya berjajar, saling berhimpitan, berjalinan serta sambung-menyambung. Motif lain yang juga bisanya terdapat pada rumah ini adalah motif geometri bersegi tiga, empat, dan genjang.

    Rumah Gadang – Pengaruh Materilineal dalam Fungsi Rumah Gadang

    Rumah Gadang Berasal Dari – Selain sebagai tempat tinggal, rumah gadang juga digunakan sebagai tempat bermusyawarah serta tempat berlangsungnya berbagai upacara adat. Sebagai rumah tinggal keluarga besar, rumah ini dibangun pada sebidang tanah yang dimiliki oleh keluarga induk secara turun temurun. Nantinya, rumah ini hanya akan diwariskan kepada anak perempuan, begitu seterusnya.

    Pada halaman depan rumah, dua buah bangunan rangkiang yang berfungsi sebagai tempat menyimpan padi. Pada sayap sisi sebelah kanan dan kiri rumah terdapat ruang anjung. Anjung ini memiliki banyak fungsi, seperti tempat penobatan kepala adat atau tempat bersanding untuk pengantin. Itulah sebabnya, rumah ini juga disebut sebagai rumah Baanjuang.

    Di Minangkabau terdapat dua kelarasan, yaitu koto piliang dan bodi chaniago. Keduanya membangun anjung secara berbeda karena adanya perbedaan filosofis. Pada kelarasan bodi chaniago, biasanya membuat anjung tanpa memakai tongkat penyangga di bawahnya. Hal ini menyebabkan anjung seolah-olah mengapung di udara.

    Berbeda dengan kelarasan koto piliang yang menggunakan tongkat penyangga. Hal itu di disebabkan keselarasan koto piliang menganut prinsip pemerintahan yang hirarki. Anjung pada rumah koto piliang, biasanya berfungsi sebagai tempat pemuka adat ketika melakukan upacara adat. Dari sini terlihat adanya strata kebangsawanan pada kelarasan sosial koto piliang.

    Sebagai tampat tinggal bersama suatu keluarga besar, terdapat berbagai ketentuan pada rumah gadang. Banyaknya kamar di dalam rumah, tergantung dari jumlah wanita yang tinggal di rumah tersebut. Bagi wanita yang telah memiliki suami akan mendapatkan satu kamar. Berbeda dengan wanita lanjut usia beserta anak-anak yang medapat kamar di dekat dapur. Para gadis remaja akan mendiami kamar bersama di salah satu ujung rumah. Sementara itu, anak remaja  laki-laki yang belum menikah akan tinggal di surau bersama pemuda lainnya.

    Bagian tengah rumah ini disebut sebagai pangka. Ketika berlangsung acara adat, pangka menjadi tempat bagi orang-orang penting. Selain itu, terdapat lumbung sebagai tempat menyimpan beras yang terpisah dari rumah ini. Terdapat tiga macam lumbung, yaitu rangkiang sitinjau lauik yang digunakan sebagai tempat menyimpan beras untuk acara adat, rangkiang sibayau-bayau yang menjadi tempat menyimpan beras keperluan sehari-hari keluarga, serta rangkiang sitangka lapa yang berfungsi untuk menyimpan beras untuk disumbangkan kepada orang miskin.

    Para wanita yang telah menikah nantinya akan memiliki keluarga yang terus berkembang. Dimana akan lahir anak-anak baru ke dunia. Hal itu akan mengakibatkan rumah ini tidak dapat menampung seluruh keluarga. Untuk itu, sudah saatnya bagi anak perempuan dan keluarganya mendirikan rumah  yang bru. Tentunya anak perempuan tertua yang akan mendirikan rumah gadang terlebih dahulu.

    Sebelum dibangunnya rumah ini, terlebih dahulu akan dilakukan musyawarah oleh ninik mamak dengan tuo kampung. Musyawarah dilakukan untuk menentukan penataan dalam bangunan rumah ini. Rumah ini baru akan dibangun di dekat rumah ibu. Letaknya bisa di samping kiri, kanan, atau di depannya. Rumah yang disebut saparuik ini untuk seterusnya dibangun mengikuti hubungan kekerabatan dari pihak ibu.

    Rumah gadang sebagai rumah adat dipengaruhi oleh sistem kekerabatan matrilineal pada adat Minangkabau. Pengaruh tersebut dapat dilihat dari elemen arsitekturalnya, seperti  tata ruang dalam, bentuk, tata ruang luar serta ornamennya. Bahkan, bentuk atap gonjong pada rumah seringkali tidak simetris. Hal itu disebabkan oleh adat yang mengatur jika anak perempuan yang baru menikah harus menempati bagian ujung rumah. Untuk itu akan ada penambahan kamar, dimana atap gonjong akan disesuaikan dengan jumlah anak perempuan yang telah menikah.

    Rumah Gadang Berasal Dari – Walaupun sudah memasuki zaman modern dan bahan pembuatannya telah disesuaikan, namun rumah ini tetap dilestarikan. Rumah gadang merupakan salah satu kekayaan bangsa Indonesia hingga saat ini. Kita harus bangga dengan banyaknya rumah adat yang ada di Indonesia.